Awal Baru



Bajingan! Akhir-akhir ini kepala rasanya penuh sekali. Bisingnya seperti mau menyiksa saja. Padahal tidak ada beban dan tekanan pekerjaan seperti dulu. Tapi ternyata malah itu biang masalahnya. 

Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa harga diri laki-laki adalah bekerja, maka sudah pasti kubenarkan hal itu. Tidak ada pekerjaan dan penghasilan membuat diriku merasa tidak punya harga diri. Kamu tahu hal gilanya? Adalah diriku, yang sudah menganggur lebih dari 4 tahun. Bahkan 1 Oktober nanti sudah tepat 5 tahun aku tidak ada pekerjaan  tetap.

Kebodohan ini berawal dari 30 September 2019 dimana aku habis kontrak kerja dengan salah satu PT besar di Jakarta Timur. Padahal dulu aku sudah tahu bahwa syarat dan aturan agar bisa tambah kontrak sangat ketat dan disiplin. Tapi malah diriku yang bodoh ini pernah beberapa kali datang telat dan tidak masuk kerja. Yang absensinya bagus saja, belum tentu diperpanjang kontrak.

Setelah habis kontrak itu sebenarnya aku sempat bekerja di rumah makan padang di daerah Jakarta Timur. Dan terjadilah kebodohan berikutnya. Bisa tebak apa itu? Ya. Aku hanya bekerja satu hari di tempat itu. Orang gila macam apa yang kerja hanya bertahan satu hari? 

Ya, salahku juga sih karena sebenarnya memang tidak ingin bekerja di tempat itu tapi kupaksakan. Akhirnya di hari kedua kuberanikan mengutarakan kepada Uda pemilik rumah makan tersebut bahwa aku ingin berhenti bekerja. Hal memalukannya adalah saya sampai menangis saat mengutarakan ingin berhenti. Ada rasa malu, tidak enak, lelah, campur aduk. Tapi untungnya Uda sangat baik hati dan mengerti alasanku. Malah dia memberi uang saku 50 ribu yang sempat kutolak tapi dia tetap memaksaku untuk menerima.

Ya begitulah. Kebodohan itu masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan lebih bodoh. Sekarang rasanya berat dan takut ketika setiap kali mau bekerja. Takut jika tidak bisa melaksanakan jobdesk pekerjaan itu. Takut jika aku keliatan tolol. Dan pikiran-pikiran buruk lainnya.

Empat tahun banyak rasa dan beban yang telah menumpuk di hati dan pikiran. Rasanya hampir setiap malam aku menangisi ketidakmampuanku ini. Sangat menyedihkan! Kadang sampai terasa sakit sekali di hati. Sangat sesak saat menangis sendiri di kamar mengingat seharusnya aku memberi kebahagiaan kepada orang-orang yang kucintai, tapi tidak bisa. Saking sesaknya sampai harus kupukul-pukul dada dan kepalaku. Kadang kuremas dengan kuat. 

Maka sampailah kepada hari ini. Dimana aku merasa butuh melakukan sesuatu untuk mengalihkan emosiku ini. Dan dari sekian opsi aku memilih menulis. Ya, menulis lagi.

Akan aku mulai dari sini!
2 komentar
  1. antara ngakak dan prihatin dengan ruwetnya pikiran yg dialami yg sebenarnya aku juga merasa related sama tulisan. ya begitulah dunia sumber masalah. tak pernah usai. semoga cepet dapat awal yg baru

    BalasHapus